
Asppendo.org — Upaya pemulihan pelaku usaha kecil yang terdampak bencana kini mendapat dorongan nyata melalui program “Klinik UMKM Bangkit”. Program ini merupakan bagian dari kerja Satuan Tugas Pelindungan dan Pemulihan UMKM yang dibentuk oleh Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia. Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia (ASPPENDO) menjadi salah satu Anggota yang ditugaskan untuk menyelenggarakan program ini sesuai dengan Keputusan Menteri UMKM No. 14 Tahun 2026.
Pertemuan pertama untuk pembahasan Klinik UMKM Bangkit untuk wilayah Aceh telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Mei 2026. Acara dihadiri oleh Koordinator wilayah Aceh, Dina Ediwani serta perwakilan UMKM di wilayah Aceh. “Output kegiatan agar UMKM mampu bersiap masuk ke Go online, Go Nasional dan Go Global,” ungkap Dina kepada ASPPENDO, Selasa (05/05/2026).
Klinik UMKM Bangkit sebagai respons dari dampak banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025. Bencana tersebut menyebabkan kerugian terhadap UMKM. Mulai dari rusaknya tempat usaha, hilangnya peralatan dan stok barang, hingga terganggunya akses pasar. Hal ini berdampak signifikan karena UMKM telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan komunitas lokal.
Kegiatan akan berlangsung secara online dan offline sesuai dengan kondisi. Dina menjelaskan nantinya Klinik UMKM Bangkit akan diadakan untuk wilayah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Langsa, Aceh Utara, dan Bireuen.
Program ini dilaksanakan oleh sejumlah pengurus dari ASPPENDO yakni Koordinator Layanan Belanja Produk Lokal Wilayah I, Pristiyanto dan Bendahara Dewan Pimpinan Pusat ASPPENDO, Mei Yanti Nainggolan. Adapun Koordinator wilayah Sumatera Utara yaitu Rini Riswani, dan Koordinator wilayah Sumatera Barat yaitu Erikson Marbun.
Data dari SDIT-UMKM menunjukkan dari 624.542 UMKM di Aceh, 99,66 persen dari UMKM masih berusaha mikro dan 1,04 persen sudah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Kemudian data dari Infoacehtimur.com memaparkan sebanyak lebih dari 24.500 UMKM di Aceh Timur yang mengalami kerusakan akibat bencana. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendampingan terpadu agar UMKM bisa kembali produktif.
Melalui Klinik UMKM Bangkit, pelaku usaha mendapatkan berbagai dukungan yaitu pelatihan manajemen dan pemasaran, pendampingan legalitas usaha, hingga akses ke pembiayaan. Program ini juga mendorong terbentuknya jejaring pemasaran online maupun offline serta penyusunan database UMKM terdampak yang terverifikasi.
“Harapan kami, agar terbuka peluang pasar dan dukungan nyata dari berbagai pihak agar usaha UMKM yang mulai bangkit ini dapat pulih dan tangguh,” tambah Dina.
Dengan strategi ini, Klinik UMKM Bangkit tidak hanya membantu pemulihan, tetapi juga mendorong UMKM untuk naik kelas dan lebih tangguh menghadapi krisis di masa depan.
Penulis: Assyahra Aulia Putri