



Asppendo.org – Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia (ASPPENDO) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar rapat koordinasi guna memperkuat sinergi pengembangan UMKM, khususnya melalui program PROFIT. Rapat dipimpin oleh Ibu Devi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, dan dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, pukul 09.12–10.58 WIB, bertempat di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan PROFIT berjalan stabil dan konsisten, dengan jumlah peserta berada pada kisaran 300–350 UMKM. Hingga Desember 2025, kegiatan penyusunan profil UMKM telah dilaksanakan sebanyak delapan kali. Ke depan, penyusunan profil UMKM akan difokuskan bagi UMKM potensial yang siap masuk pasar ekspor, dengan penekanan pada kelengkapan dokumen ekspor dan penyusunan Harga Pokok Produksi (HPP) ekspor agar UMKM memiliki daya saing dan keberlanjutan usaha.
KKP juga memaparkan tahapan UMKM naik kelas hasil kurasi, yang meliputi proses kurasi, pembinaan pasca-kurasi, hingga tahap penilaian akhir. Seluruh kegiatan pembinaan UMKM telah memiliki payung hukum melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (PERMENKP), yang mengatur klasifikasi UMKM berdasarkan tingkat kesiapan dan kapasitas usaha. Dalam pelaksanaannya, diperlukan penambahan kompetensi pendamping agar hasil pembinaan lebih optimal.
Program PROFIT tetap menjadi program utama pengembangan kapasitas UMKM dan akan disusun silabus khusus agar materi pelatihan lebih tersegmentasi dan tepat sasaran. Kegiatan PROFIT dijadwalkan tetap berlangsung setiap hari Selasa, dengan pelaksanaan bulan Januari direncanakan pada akhir bulan. KKP juga berharap program ini mampu memberikan output nyata bagi UMKM untuk meningkatkan motivasi dan semangat pelaku usaha.
Dari sisi perluasan pasar, strategi diarahkan pada penguatan pasar dalam negeri melalui akses ritel modern serta mendorong UMKM untuk menembus pasar internasional. Dalam mendukung hal tersebut, KKP memiliki mekanisme ekspor UMKM bersama melalui pengiriman satu kontainer yang diisi oleh beberapa UMKM. Saat ini, terdapat dua UMKM asal Purwokerto yang telah menyatakan kesiapan ekspor, yaitu produk somay dan pepes bandeng.
Sinergi dengan sektor perbankan turut diperkuat, salah satunya melalui keterlibatan BNI yang akan menghadirkan trainer dalam kegiatan pendampingan UMKM. Seluruh materi pelatihan akan dimasukkan ke dalam Learning Management System (LMS), dan peserta diwajibkan mengikuti evaluasi sebelum memperoleh sertifikat. BNI juga menyampaikan harapan untuk difasilitasi pencarian UMKM yang siap mengakses pembiayaan senilai Rp 5–10 miliar dengan bunga 8 persen.
Wilayah fokus pelaksanaan kegiatan meliputi Kalimantan Timur (komoditas udang), Indramayu (UMKM umum), dan Lombok (komoditas mutiara), dengan target seluruh rangkaian kegiatan selesai pada Maret 2026. ASPPENDO menyatakan kesiapan berperan sebagai jembatan koordinasi dengan dinas daerah, serta terlibat sebagai Event Organizer/Implementing Organizer dalam kegiatan business matching dan menghadirkan buyer.
Ke depan, KKP juga merencanakan penguatan promosi UMKM melalui booth bersama, penyelenggaraan UMKM Day/Festival UMKM, serta peluang kerja sama sponsorship dengan ASPPENDO. Melalui kolaborasi ini, diharapkan pembinaan UMKM dapat berjalan lebih selektif, terarah, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas serta akses pasar UMKM binaan KKP.
Penulis : Dea Nurma Anitia
Diunggah oleh : Agustina Ardini Lestari