

Asppendo.org — Tanggal 21 April selalu menjadi momen reflektif bagi perempuan Indonesia melalui peringatan Hari Kartini yang menghormati perjuangan Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat sebagai pelopor emansipasi. Lahir di Jepara pada 1879, Kartini memperjuangkan kesetaraan hak perempuan dalam pendidikan, pemikiran, dan peran sosial di tengah keterbatasan zamannya. Semangatnya tetap relevan hingga Hari Kartini 2026 sebagai fondasi bagi pemberdayaan perempuan, termasuk dalam sektor ekonomi.
Kartini kerap dipandang sebagai sosok modern yang melampaui masanya, dengan gagasan yang menekankan bahwa perempuan memiliki kapabilitas setara dengan laki-laki. Pemikirannya tidak hanya menjadi inspirasi historis, tetapi juga mendorong perempuan masa kini untuk berani mengambil peran aktif di berbagai bidang. Pemberdayaan perempuan melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu wujud konkret dari cita-cita Kartini.
Perempuan Indonesia saat ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam sektor ekonomi, termasuk UMKM. Data SIDT-KUMKM (2025) mencatat sebanyak 49,34% pelaku UMKM adalah perempuan. Dengan UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja, peran perempuan menjadi semakin strategis dalam menopang stabilitas ekonomi negara.
Peningkatan partisipasi perempuan juga tercermin pada partisipasinya sebagai angkatan kerja. Data BPS (2025) menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan mencapai sekitar 56,6%. Meski masih di bawah laki-laki, tren ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri dan akses perempuan terhadap dunia kerja. Hal ini selaras dengan semangat Kartini yang menolak pembatasan peran perempuan hanya di ranah domestik.
Perjuangan Kartini tidak berhenti sebagai sejarah, melainkan terus hidup dalam praktik nyata. Wardiman Djojonegoro melalui karya Trilogi Kartini menekankan relevansi pemikiran Kartini terhadap isu kesetaraan masa kini. Meskipun Kartini tidak berumur panjang, namun pemikirannya mengenai pemberdayaan perempuan masih terus ditegakkan.
Hari Kartini 2026 merupakan momentum untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan UMKM perempuan. Bagi Asppendo, dukungan berupa pelatihan, akses pembiayaan, serta digitalisasi menjadi kunci agar perempuan dapat naik kelas secara ekonomi. Dengan demikian, lahir “Kartini-Kartini baru” yang mandiri dan mampu menciptakan dampak sosial yang luas.
Peran Asppendo selalu aktif sebagai fasilitator dan akselerator bagi pengusaha UMKM perempuan melalui berbagai program penguatan kapasitas. Asppendo berupaya membuka akses jejaring dan kemitraan strategis yang memungkinkan pengusaha perempuan memperluas pasar serta meningkatkan keberlanjutan UMKM.
Pada akhirnya, pemberdayaan UMKM perempuan adalah refleksi nyata dari perjuangan Kartini yang terus berlanjut. Perempuan masa kini memiliki ruang, kemampuan, dan peluang untuk berkembang tanpa batas yang dulu menghalangi. Tantangannya bukan lagi soal kesempatan, tetapi bagaimana memaksimalkan potensi untuk menciptakan perubahan berkelanjutan.
Penulis : Assyahra Aulia Putri
Diunggah oleh : Agustina Ardini Lestari