Asppendo Jadi Jembatan UMKM Masuk AEON, 23 Produk Lolos Kurasi

Screenshot_2026-01-22-14-16-39-871_com.google.android.apps.docs.editors.docs-edit
Screenshot_2026-01-22-14-17-03-826_com.google.android.apps.docs.editors.docs-edit
Screenshot_2026-01-22-14-17-36-657_com.google.android.apps.docs.editors.docs-edit
Screenshot_2026-01-22-14-18-07-017_com.google.android.apps.docs.editors.docs-edit

Asppendo.orgAsppendo bantu distribusi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor makanan ringan, frozen food, dan makanan instan melalui pembukaan layanan Business Matching (BM). Layanan ini membantu pelaku UMKM mendaftarkan produk mereka untuk dikurasi oleh PT AEON Indonesia pada jaringan ritel.

Sebagai tindak lanjut, tim Asppendo melakukan kunjungan langsung ke kantor PT AEON Indonesia yang berlokasi di AEON Store BSD City, Tangerang. Kunjungan ini bertujuan untuk mendistribusikan sampel produk UMKM agar dapat diseleksi oleh tim AEON dalam proses kurasi.

Asppendo berperan sebagai perantara antara UMKM dan AEON. Melalui layanan ini, UMKM tidak perlu datang langsung ke AEON untuk mendaftarkan produknya dan seluruh proses pendampingan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya.

Terdapat 16 UMKM yang berpartisipasi dengan total 46 produk yang diserahkan sebagai sampel. Hasil seleksi menunjukkan bahwa 23 produk makanan ringan dinyatakan lolos kurasi. Sementara itu, 11 produk frozen food dan makanan instan masih berada dalam daftar tunggu karena harus melalui proses uji coba dalam kondisi sudah dimasak.

Bendahara Umum Asppendo dan Pendamping UMKM, Mei Yanti Nainggolan, menekankan pentingnya pemenuhan sertifikasi produk. Ia menyampaikan bahwa barcode GS1 merupakan salah satu syarat krusial yang masih sering belum dimiliki oleh banyak UMKM.

“Banyak produk UMKM yang ga punya barcode GS1, jadi mereka menumpang GS1 produk lain. Itu ga boleh,” ucap Mei di kantor PT AEON Indonesia, Tangerang pada Kamis (15/01/2026).

Selain itu, tanggal kedaluwarsa produk harus dicetak atau distempel dan tidak diperkenankan ditulis tangan. Seluruh sertifikasi dan barcode juga wajib ditempatkan di bagian depan kemasan agar mudah terlihat.

Sertifikasi lain seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kehalalan, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan sejenisnya juga menjadi perhatian dalam proses kurasi. Mei menambahkan bahwa produk dengan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dapat dipastikan keamanan produknya.

“HACCP itu kasta tertinggi (sertifikasi produk). Kalau sudah ada HACCP, ga perlu melihat BPOM,” jelasnya.

Kegagalan lolos kurasi tidak hanya disebabkan oleh perizinan, tetapi juga status usaha. Produk yang didaftarkan atas nama Perseroan Terbatas (PT) tidak akan lolos karena kurasi ini dikhususkan bagi UMKM perorangan.

Selain aspek administrasi, produk UMKM juga dinilai dari cita rasa. Beberapa produk dinilai sudah sesuai dan enak, sementara lainnya masih perlu ditingkatkan. Perbaikan tersebut seperti terlalu berminyak atau memiliki rasa yang hambar.

Pada kurasi selanjutnya, UMKM frozen food dan makanan instan diharapkan membawa sampel dalam kondisi sudah dimasak. Hal ini penting agar produk dapat langsung diseleksi dan dinilai secara optimal.

Penulis : Assyahra Aulia Putri 

Diunggah oleh : Agustina Ardini Lestari