

Asppendo.org – Sudah banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang memiliki penjualan lancar. Namun penjualan stabil tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan usaha untuk berkembang. Stabilitas penjualan kerap hanya cukup untuk bertahan hidup saja bagi sebagian pelaku usaha.
Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, 97% lapangan kerja di Indonesia masih berasal dari usaha kecil informal dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Kontribusi besar dari UMKM untuk tenaga kerja belum diikuti oleh daya saing yang kuat.
Pakar manajemen bisnis FEB UGM, Rocky Adiguna menjelaskan bahwa UMKM kerap berada dalam fase “survival” daripada “growth”.
“Banyak tantangannya. Maka kita perlu membuat ekosistem, dan ketika UMKM bisa tergabung dalam ekosistem maka dia bisa punya sumber daya yang di luar dirinya sendiri,” jelas Rocky berdasarkan laporan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dari sisi finansial, dominasi usaha mikro juga menunjukkan lemahnya struktur bisnis UMKM. Berdasarkan laporan dari Portal Informasi Indonesia, sebagian besar omzet tahunan masih di bawah Rp50 juta dan laba bersih kurang dari Rp1 juta per bulan. Kondisi ini membuat ruang untuk pengembangan produk menjadi sangat terbatas.
Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat UMKM antara lain:
Sulitnya memperoleh modal dan investasi membuat UMKM tidak leluasa mengembangkan usaha, Meskipun pemerintah telah menyediakan berbagai skema pendanaan dan penghubung dengan investor, tetapi banyak UMKM yang sering mengalami kendala untuk mendapatkannya.
UMKM kesulitan menjangkau konsumen baru dan meningkatkan penjualan mereka karena pemasarannya yang lemah. Minimnya anggaran promosi dan keterbatasan terhadap brand awareness menjadi faktor penghambat pemasaran.
Sebagian besar UMKM belum memanfaatkan digital marketing, e-commerce, dan sistem manajemen berbasis teknologi. Hal ini membuat pelaku usaha kalah bersaing di tengah percepatan digitalisasi pasar.
Keterbatasan pengetahuan dalam manajemen usaha dan perencanaan bisnis menyebabkan pengelolaan UMKM kurang efisien dan sulit berkembang secara berkelanjutan.
UMKM yang tidak terintegrasi dalam ekosistem bisnis cenderung berjalan sendiri dan stagnan. Maka dari itu, pendampingan untuk UMKM dengan inkubasi dan kolaborasi terbukti penting untuk mendorong UMKM naik kelas.
Penulis : Assyahra Aulia Putri
Diunggah oleh : Alfansyah Yuandianto